Rabu, 05 Juni 2013

Asal Usul Minangkabau


Sejarah Minangkabau
Indotoplist.com : Alkisah pada masa lalu Ranah Minangkabau mendapat ancaman serangan dari kerajaan yang kuat dari daerah Jawa. Untuk menghindari pertempuran fisik yang pasti banyak memakan korban, orang Minangkabau melakukan diplomasi dan mengusulkan agar peperangan tersebut diganti dengan adu kerbau. Usul tersebut disetujui oleh raja dari Jawa, kemudian dikirimlah kerbau yang besar dan perkasa.
Sejarah Minangkabau
Suatu siang di sebuah kawasan di Ranah Minang. Puluhan warga memadati arena pertandingan. Di tengah lapangan, dua ekor kerbau kekar saling berhadapan. Mereka akan diadu untuk ditetapkan sebagai sang juara. Itulah sepintas adu kerbau yang menjadi budaya turun-temurun masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat. Budaya warisan leluhur yang telah berlangsung ratusan tahun itu sampai kini masih dijaga dengan baik oleh masyarakat Minang.

Alkisah pada masa lalu Ranah Minangkabau mendapat ancaman serangan dari kerajaan yang kuat dari daerah Jawa. Untuk menghindari pertempuran fisik yang pasti banyak memakan korban, orang Minangkabau melakukan diplomasi dan mengusulkan agar peperangan tersebut diganti dengan adu kerbau.  Usul tersebut disetujui oleh raja dari Jawa, kemudian dikirimlah kerbau yang besar dan perkasa. Dari Minangkabau disiapkan anak kerbau tetapi yang kehausan dan di tanduknya dipasang taji.

Suku Minangkabau memang mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan hewan ternak berkaki empat yang disebut kerbau. Itu antara lain terlihat pada berbagai identitas budaya Minang, seperti atap rumah tradisional mereka (Rumah Bogonjong). Rumah adat yang kerap disebut juga Rumah Gadang itu berbentuk seperti tanduk kerbau. Begitu pula pada pakaian wanitanya (Baju Tanduak Kabau).

Sudah beratus-ratus tahun lamanya kerbau menjadi salah satu hewan terfavorit di Provinsi Sumbar. Badan kerbau yang besar dan kekar dianggap mampu membantu berbagai macam pekerjaan manusia. Salah satu pekerjaan kuno yang dikerjakan dengan bantuan tenaga kerbau adalah menggiling tebu. Dengan alat sederhana, sang kerbau diikat di sebilah bambu yang terhubung pada alat pemeras tebu tradisional. Selama delapan jam bekerja, sang kerbau terus-menerus berputar mengelilingi alat pemeras. Uniknya, agar sang kerbau tidak pusing kepala, mata hewan itu ditutup dengan dua buah batok kelapa yang dilapisi kain.

Air tebu hasil perasan sang kerbau itulah yang kemudian menjadi cikal bakal pembuatan gula merah tradisional. Masyarakat Minang percaya gula merah hasil kerja keras sang kerbau lebih gurih ketimbang dari alat modern.

Saat dimulai pertarungan, ketika anak kerbau yang masih kecil itu menoleh ke kerbau dari Jawa, serta merta menyeruduk perut lawannya yang dikira ibunya dan menikam kerbau dari Jawa  hingga mati. Raja Jawa mengakui kemenangan ini dan akhirnya mengurungi niatnya untuk menyerang Minangkabau. Sejak itulah orang Minangkabau konon memakai nama Minangkabau yang berarti Menang Dalam Pertandingan Kerbau sebagai identitas budayanya.
Sejarah Minangkabau
Dari sisi sejarah, hewan kerbau bagi suku besar di Sumbar ini telah mengantarkan kejayaan mereka di masa silam. Konon, dahulu kala karena bantuan kerbau-lah masyarakat di Sumbar menang perang melawan suku Jawa. Akhirnya sampai sekarang mereka menamakan dirinya sebagai suku Minangkabau. “Jadi perang tak berakhir juga, jadi kami usulkan untuk adu saja kerbau.

Oleh pihak penyerang dicarilah kerbau yang terbesar di daerahnya ditempatkan di tengah ladang. Orang sini hanya anak kerbau yang sedang menyusu. Karena kerbau yang sudah dua hari tak minum susu, dia lari mengejar susu ibunya. Jadi perut kerbau besar itu robek dan dia lari,” kisah Datuk Bandaro Panjang, pemuka adat.

Kisah sang kerbau ternyata tak hanya menjadi legenda semata. Hingga kini pasar ternak di Sumbar pun lebih banyak menjual kerbau ketimbang sapi. Sistem penjualan ternak orang Minang pun cukup unik. Berbeda dengan pasar sayur tradisional di pasar ternak ini tidak akan terdengar sepatah kata pun antara sang penjual dan pembeli. Transaksi yang berlaku hanya menggunakan tangan. Jari-jari tangan dipakai sebagai alat perhitungan harga jual ternak yang akan dibeli.

Badan padat, kaki kekar dan mata tajam. Itulah ciri khas Si Borgol, kerbau kesayangan Kati Sutan, petani Ranah Minang. Bagi Kati Sutan, memiliki kerbau seperti Borgol ibarat memiliki harta yang sangat berharga dan juga kehormatan. Borgol bukanlah sembarang kerbau. Ia seekor kerbau aduan yang sudah menang lima kali pertandingan. Karena kehebatan itulah, hewan tersebut kemudian mendapat gelar borgol yang berarti kuat mengunci lawan.

Tak hanya untuk hobi semata, kesenangan Kati Sutan mengikuti adu kerbau juga untuk meneruskan tradisi budaya Minangkabau. Ketangguhan Si Borgol yang sudah lima kali memenangkan pertandingan itu membuat Kati Sutan terkenal di kampungnya. Setelah berumur dua tahun, kerbau yang memiliki potensi sebagai aduan biasanya mulai dilatih oleh pemiliknya. Kali ini, Borgol pun akan dilatih untuk mempersiapkan kekuatan fisiknya menjelang pertandingan. Calon lawan tanding latihan harus sesuai berat tubuh Si Borgol. Sebab jika tidak imbang, latihan tarung itu akan percuma.
Sejarah Minangkabau
Latihan tarung kerbau paling lama dilakukan selama satu jam. Setelah yakin akan kekuatan Borgol, latihan tarung dihentikan. Kati Sutan sangat yakin kerbaunya akan menang kembali. Dalam adu kerbau tak hanya kekuatan kerbau yang menjadi andalan. Pemilik kerbau juga harus meminta jampi-jampi kepada dukun kerbau agar menang dalam pertandingan.

Seusai latihan tarung, Kati Sutan pun meminta seorang dukun kerbau untuk menjampi-jampi Si Borgol. Seperti pertandingan sebelumnya, Kati Sutan meminta bantuan Sutan Marajo, dukun adu kerbau yang terkenal di kampungnya. Sang dukun membawa sejumlah bahan-bahan alam untuk membuat jamu andalan bagi Si Borgol.

Bahan-bahan alam yang terdiri dari jahe, temulawak, lada dan daun-daunan alam lainnya mulai diracik. Di atas api besar, jamu-jamuan itu disangrai hingga gosong. Sementara keluarga Kati Sutan pun ikut membantu. Bahan lain untuk campuran jamu, seperti telur bebek, air jeruk nipis, minuman suplemen dan satu botol bir hitam turut disiapkan.

Setelah semua bahan siap, Sutan Marajo pun mulai membacakan mantera dan membakar kemenyan. Ia berdoa agar kerbau yang dijampinya dapat memenangkan pertandingan. Jampi-jampi pun dicampur ramuan. Setelah itu, ramuan kemudian ditempatkan di selembar daun yang keesokan harinya akan diberikan kepada Si Borgol. Keluarga Kati Sutan pun lantas mempersiapkan Borgol sang jagoan untuk diadu keesokan harinya.

Hari pertandingan pun tiba. Kati Sutan mulai bersiap-siap. Namun sebelum berangkat ke arena pertandingan masih ada sejumlah ritual yang harus dilakukan sang dukun, yakni meruncingkan tanduk milik Si Borgol. Tanduk merupakan salah satu bagian tubuh kerbau yang paling mudah untuk melukai lawan. Karenanya harus dibuat setajam mungkin. Dengan sebilah pisau Sutan Marajo menajamkan tanduk Si Borgol. Kini tanduk sang kerbau telah tajam laksana pedang.

Ritual pun dilanjutkan. Seperti layaknya manusia, Borgol harus mandi dahulu sebelum maju ke arena pertarungan. Sambil membalurkan air ke tubuh Borgol, Sutan Marajo merapalkan jampi-jampi ajiannya agar jagoan Kati Sutan ini kuat melawan musuh. Sesudah acara mandi selesai, sang dukun memberikan ramuan jampi-jampinya yang dibuat kemarin sore. Tanpa melawan Borgol pun kemudian memakan ramuan sang dukun dengan lahapnya. Tak lupa tubuh tegap Borgol pun dibaluri lumpur dan jelaga agar terlihat gagah. Kini seluruh persiapan telah usai dilaksanakan. Borgol sang jagoan sudah tak sabar bertemu lawan tandingan.
Sejarah Minangkabau
Siang itu di bawah sinar matahari, Borgol dilepas dari kandangnya. Bak seorang jagoan, dengan gagahnya Borgol berjalan keliling kampung menuju arena pertandingan. Letak arena pertandingan sekitar tujuh kilometer dari desa Kati Sutan. Namun ditemani sang dukun Sutan Marajo, Borgol tak gentar berjalan. Bahkan sesekali, kerbau kekar itu mulai berlari seakan tak sabar untuk bertemu sang penantang.

Akhirnya sampai juga Borgol di lokasi pertandingan. Rupanya sang lawan telah menunggu di pojok arena. Lawan tangguh Borgol tersebut berasal dari desa tetangga. Berbeda dengan Borgol yang sudah ikut lima kali pertandingan, lawannya justru baru kali ini maju ke arena adu kerbau.

Satu per satu penonton mulai berdatangan ke arena. Dengan tarif yang cukup murah, penonton dapat memilih tempat yang paling nyaman di sekeliling gelanggang. Awalnya adu kerbau dilakukan untuk mempertahankan tradisi suku Minangkabau. Sayang belakangan acara adu kerbau justru dimanfaatkan para penontonnya untuk bertaruh atau berjudi. Begitu pula dalam pertandingan Borgol. Dan Borgol-lah yang dijagokan. Hampir seluruh penonton bertaruh Borgol sang jagoan akan memenangkan pertandingan.

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dua kerbau aduan dibawa ke tengah lapangan. Dan tanpa menunggu aba-aba lagi, kedua kerbau langsung saling mengejar. Tak disangka, Borgol yang dijagokan justru lari terbirit-birit menghindari lawan. Adu kerbau kali ini ternyata tak berjalan lama. Hanya dalam sekejap, Borgol menyerah kalah dan lari tunggang langgang ke luar arena.

Para penonton pun pulang dengan penuh kekecewaan. Borgol sang jagoan ternyata tak mampu mempertahankan gelarnya. Rona kecewa juga terpancar di wajah Kati Sutan. Kekalahan Borgol seakan kehilangan kehormatan bagi keluarga Kati Sutan.
Sumber : /tourism.padang.go.id, www.liputan6.com

Senin, 20 Februari 2012

ISLAM

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Artikel ini adalah bagian dari seri Islam
Allah-eser-green.png
Rasul

Nabi Muhammad SAW
.
Kitab Suci

Al-Qur'an
.
Rukun Islam
1. Syahadat · 2. Salat · 3. Zakat
4. Puasa · 5. Haji
Rukun Iman
Iman kepada: 1. Allah
2. Malaikat · 3. Kitab Allah ·4. Rasul
5. Hari Akhir · 6. Qada & Qadar
Tokoh Islam
Muhammad SAW
Nabi & Rasul · Sahabat
Ahlul Bait
Kota Suci
Mekkah · & · Madinah
Kota suci lainnya
Yerusalem · Najaf · Karbala
Kufah · Kazimain
Mashhad ·Istanbul · Ghadir Khum
Hari Raya
Idul Fitri · & · Idul Adha
Hari besar lainnya
Isra dan Mi'raj · Maulid Nabi
Asyura
Arsitektur
Masjid ·Menara ·Mihrab
Ka'bah · Arsitektur Islam
Jabatan Fungsional
Khalifah ·Ulama ·Muadzin
Imam·Mullah·Ayatullah · Mufti
Hukum Islam
Al-Qur'an ·Hadist
Sunnah · Fiqih · Fatwa
Syariat · Ijtihad
Manhaj
Salafush Shalih
Mazhab
1. Sunni:
Hanafi ·Hambali
Maliki ·Syafi'i
2. Syi'ah:
Dua Belas Imam
Ismailiyah·Zaidiyah
3. Lain-lain:
Ibadi · Khawarij
Murji'ah·Mu'taziliyah
Lihat Pula
Portal Islam
Indeks mengenai Islam



Islam (Arab: al-islām, الإسلام Tentang suara ini dengarkan : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia,[1][2] menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.[3] Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh).[4] Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan"[5][6], atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Daftar isi

Aspek kebahasaan

Kata triliteral semitik 'S-L-M' menurunkan beberapa istilah terpenting dalam pemahaman mengenai keislaman, yaitu Islam dan Muslim. Kesemuanya berakar dari kata Salam yang berarti kedamaian.[7] Kata Islam lebih spesifik lagi didapat dari bahasa Arab Aslama, yang bermakna "untuk menerima, menyerah atau tunduk" dan dalam pengertian yang lebih jauh kepada Tuhan. [8]

Aspek kemanusiaan

Dengan demikian, Islam berarti penerimaan dari dan penyerahan diri kepada Tuhan, dan penganutnya harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari al-Qur’an. Dalam beberapa ayat, kualitas Islam sebagai kepercayaan ditegaskan: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam..."[9] Ayat lain menghubungkan Islām dan dīn (lazimnya diterjemahkan sebagai "agama"): "...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."[10] Namun masih ada yang lain yang menggambarkan Islam itu sebagai perbuatan kembali kepada Tuhan-lebih dari hanya penyataan pengesahan keimanan.[11]

Kepercayaan

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah" - yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah". Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).
Kaum Muslim percaya bahwa Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi terakhir setelah diutusnya Nabi Isa 6 abad sebelumnya. Agama Islam mempercayai bahwa al-Qur'an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber hukum dan peraturan hidup yang fundamental.[12] Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai penerus dan pembaharu kepercayaan monoteistik yang diturunkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi oleh Tuhan yang sama. Islam menegaskan bahwa agama Yahudi dan Kristen belakangan setelah kepergian para nabinya telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks dalam kitab suci, memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.[13]
Umat Islam juga meyakini al-Qur'an yang disampaikan oleh Allah kepada Muhammad. melalui perantara Malaikat Jibril adalah sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Baqarah [2]:2). Di dalam al-Qur'an Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur'an hingga akhir zaman.
Adapun sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an, umat Islam juga diwajibkan untuk beriman dan meyakini kebenaran kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur, Taurat, Injil dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu sebelum Muhammad.[14] Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Umat Islam meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah satu agama yang sama dengan (tauhid|satu Tuhan yang sama), dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni) yang menjadikannya seorang muslim.[15][16] Pandangan ini meletakkan Islam bersama agama Yahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam al-Qur'an, penganut Yahudi dan Kristen sering direferensikan sebagai Ahli Kitab atau orang-orang yang diberi kitab.

1. Lima Rukun Islam

Islam memberikan banyak amalan keagamaan. Para penganut umumnya digalakkan untuk memegang Lima Rukun Islam, yaitu lima pilar yang menyatukan Muslim sebagai sebuah komunitas.[17] Tambahan dari Lima Rukun, hukum Islam (syariah) telah membangun tradisi perintah yang telah menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktikal seperti kehalalan, perbankan, jihad dan zakat.[18]
Isi dari kelima Rukun Islam itu adalah:
  1. Mengucapkan dua kalimah syahadat dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah.
  2. Mendirikan salat wajib lima kali sehari.
  3. Berpuasa pada bulan Ramadan.
  4. Membayar zakat.
  5. Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu.

2. Enam Rukun Iman

Muslim juga mempercayai Rukun Iman yang terdiri atas 6 perkara yaitu:
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat Allah
  3. Iman kepada Kitab Allāh (Al-Qur'an, Injil, Taurat, Zabur dan suhuf)
  4. Iman kepada nabi dan rasul Allah
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada qada dan qadar

Ajaran Islam

Hampir semua Muslim tergolong dalam salah satu dari dua mazhab terbesar, yaitu Sunni (85%) dan Syiah (15%). Permasalahan terjadi akibat perbedaan pandangan tentang siapa yang seharusnya memimpin kaum Muslim sesudah wafatnya Muhammad. Islam adalah agama predominan sepanjang Timur Tengah, juga di sebagian besar Afrika Utara dan Asia. Komunitas besar juga ditemui di Cina, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran Muslim di bagian lain dunia, seperti Eropa Barat. Sekitar 20% Muslim tinggal di negara-negara Arab,[19] 30% di subbenua India dan 15.6% di Indonesia, negara Muslim terbesar berdasar populasi.[20]
Negara dengan mayoritas pemeluk Islam Sunni adalah Indonesia, Arab Saudi, dan Pakistan sedangkan negara dengan mayoritas Islam Syi'ah adalah Iran dan Irak. Doktrin antara Sunni dan Syi'ah berbeda pada masalah imamah (kepemimpinan) dan peletakan Ahlul Bait (keluarga keturunan Muhammad). Namun baik Sunni maupun Syi'ah secara umum berpandangan sama terhadap rukun Islam dan rukun Iman yang merupakan aspek fundamental keimanan dalam Islam walaupun dengan terminologi yang berbeda.

3.  Allah

Konsep Islam teologikal fundamental ialah tauhid, yaitu kepercayaan tentang keesaan Tuhan. Istilah Arab untuk Tuhan ialah Ilāh; kebanyakan ilmuwan[rujukan?] percaya kata Allah didapat dari penyingkatan dari kata al- (si) dan ʾilāh' (dewa, bentuk maskulin), bermaksud "Tuhan" (al-ilāh'), tetapi yang lain menjejakkan asal usulnya dari bahasa Aram Alāhā.[21] Kata Allah juga adalah kata yang digunakan oleh orang Kristen (Nasrani) dan Yahudi Arab sebagai terjemahan dari ho theos dari Perjanjian Baru dan Septuaginta. Yang pertama dari Lima Rukun Islam, tauhid dituangkan dalam syahadat (pengakuan), yaitu bersaksi:
لا إله إلا الله محمد رسول الله
Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah
Konsep tauhid ini dituangkan dengan jelas dan sederhana di dalam al-Qur'an pada Surah Al-Ikhlas yang terjemahannya adalah:
  1. Katakanlah: "Dia-lah Allah (Tuhan), Yang Maha Esa,
  2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu,
  3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
  4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Nama "Allah" tidak memiliki bentuk jamak dan tidak diasosiasikan dengan jenis kelamin tertentu. Dalam Islam sebagaimana disampaikan dalam al-Qur'an dikatakan:
"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat". (Asy-Syu'ara' [42]:11)
Allah adalah Nama Tuhan (ilah) dan satu-satunya Tuhan sebagaimana perkenalan-Nya kepada manusia melalui al-Quran :
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku". (Ta Ha [20]:14)
Pemakaian kata Allah secara linguistik mengindikasikan kesatuan. Umat Islam percaya bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah sama dengan Tuhan umat Yahudi dan Nasrani, dalam hal ini adalah Tuhan Ibrahim. Namun, Islam menolak ajaran Kristen menyangkut paham Trinitas dimana hal ini dianggap Politeisme.
Mengutip al-Qur'an, An-Nisa' [4]:71:
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agama dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikannya kepada Maryam dan (dengan tiupan ) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan janganlah kamu mengatakan :"Tuhan itu tiga", berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa. Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara".
Dalam Islam, visualisasi atau penggambaran Tuhan tidak dapat dibenarkan, hal ini dilarang karena dapat berujung pada pemberhalaan dan justru penghinaan, karena Tuhan tidak serupa dengan apapun (Asy-Syu'ara' [42]:11). Sebagai gantinya, Islam menggambarkan Tuhan dalam 99 nama/gelar/julukan Tuhan (asma'ul husna) yang menggambarkan sifat ketuhanan-Nya sebagaimana terdapat pada al-Qur'an.

4. Al-Qur'an


Al-Fatihah merupakan surah pertama dalam Al-Qur'an
Al-Qur'an adalah kitab suci ummat Islam yang diwahyukan Allah kepada Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril. Secara harfiah Qur'an berarti bacaan. Namun walau terdengar merujuk ke sebuah buku/kitab, ummat Islam merujuk Al-Qur'an sendiri lebih pada kata-kata atau kalimat di dalamnya, bukan pada bentuk fisiknya sebagai hasil cetakan.
Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an disampaikan kepada Muhammad melalui malaikat Jibril. Penurunannya sendiri terjadi secara bertahap antara tahun 610 hingga hingga wafatnya beliau 632 M. Walau Al-Qur'an lebih banyak ditransfer melalui hafalan, namun sebagai tambahan banyak pengikut Islam pada masa itu yang menuliskannya pada tulang, batu-batu dan dedaunan.
Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an yang ada saat ini persis sama dengan yang disampaikan kepada Muhammad, kemudian disampaikan lagi kepada pengikutnya, yang kemudian menghapalkan dan menulis isi Al Qur'an tersebut. Secara umum para ulama menyepakati bahwa versi Al-Qur'an yang ada saat ini pertama kali dikompilasi pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan (khalifah Islam ke-3) yang berkisar antara 650 hingga 656 M. Utsman bin Affan kemudian mengirimkan duplikat dari versi kompilasi ini ke seluruh penjuru kekuasaan Islam pada masa itu dan memerintahkan agar semua versi selain itu dimusnahkan untuk keseragaman.[22]
Al-Qur'an memiliki 114 surah , dan sejumlah 6.236 ayat (terdapat perbedaan tergantung cara menghitung).[23] Hampir semua Muslim menghafal setidaknya beberapa bagian dari keseluruhan Al-Qur'an, mereka yang menghafal keseluruhan Al-Qur'an dikenal sebagai hafiz (jamak:huffaz). Pencapaian ini bukanlah sesuatu yang jarang, dipercayai bahwa saat ini terdapat jutaan penghapal Al-Qur'an diseluruh dunia. Di Indonesia ada lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an yaitu lomba membaca Al-Qur'an dengan tartil atau baik dan benar. Yang membacakan disebut Qari (pria) atau Qariah (wanita).
Muslim juga percaya bahwa Al-Qur'an hanya berbahasa Arab. Hasil terjemahan dari Al-Qur'an ke berbagai bahasa tidak merupakan Al-Qur'an itu sendiri. Oleh karena itu terjemahan hanya memiliki kedudukan sebagai komentar terhadap Al-Qur'an ataupun bentuk usaha untuk mencari makna Al-Qur'an, tetapi bukan Al-Qur'an itu sendiri.

Nabi Muhammad S.A.W

Muhammad (570-632 M) adalah nabi terakhir dalam ajaran Islam dimana mengakui kenabiannya merupakan salah satu syarat untuk dapat disebut sebagai seorang muslim (lihat syahadat). Dalam Islam Muhammad tidak diposisikan sebagai seorang pembawa ajaran baru, melainkan merupakan penutup dari rangkaian nabi-nabi yang diturunkan sebelumnya.
Terlepas dari tingginya statusnya sebagai seorang Nabi, Muhammad dalam pandangan Islam adalah seorang manusia biasa. Namun setiap perkataan dan perilaku dalam kehidupannya dipercayai merupakan bentuk ideal dari seorang muslim. Oleh karena itu dalam Islam dikenal istilah hadits yakni kumpulan perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan Muhammad. Hadits adalah teks utama (sumber hukum) kedua Islam setelah Al Qur'an.

5.  Sejarah

a). Masa sebelum kedatangan Islam

Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam merupakan sebuah kawasan perlintasan perdagangan dalam Jalan Sutera yang menghubungkan antara Indo Eropa dengan kawasan Asia di timur. Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama Kristen dan Yahudi. Mekkah adalah tempat yang suci bagi bangsa Arab ketika itu, karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka, telaga Zamzam, dan yang terpenting adalah Ka'bah. Masyarakat ini disebut pula Jahiliyah atau dalam artian lain bodoh. Bodoh disini bukan dalam intelegensianya namun dalam pemikiran moral. Warga Quraisy terkenal dengan masyarakat yang suka berpuisi. Mereka menjadikan puisi sebagai salah satu hiburan disaat berkumpul di tempat-tempat ramai.

1). Masa awal


Negara-negara dengan populasi Muslim mencapai 10% (hijau dengan dominan sunni, merah dengan dominan syi'ah) (Sumber - CIA World Factbook, 2004).
Islam bermula pada tahun 611 ketika wahyu pertama diturunkan kepada rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira', Arab Saudi.
Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (571 masehi). Ia dilahirkan di tengah-tengah suku Quraish pada zaman jahiliyah, dalam kehidupan suku-suku padang pasir yang suka berperang dan menyembah berhala. Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, sebab ayahnya Abdullah wafat ketika ia masih berada di dalam kandungan. Pada saat usianya masih 6 tahun, ibunya Aminah meninggal dunia. Sepeninggalan ibunya, Muhammad dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalib dan dilanjutkan oleh pamannya yaitu Abu Talib. Muhammad kemudian menikah dengan seorang janda bernama Siti Khadijah dan menjalani kehidupan secara sederhana.
Ketika Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu mulai mengajarkan ajaran Islam secara tertutup kepada para sahabatnya. Setelah tiga tahun menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi, ia akhirnya menyampaikan ajaran Islam secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah, yang mana sebagian menerima dan sebagian lainnya menentangnya.
Pada tahun 622 Masehi, Muhammad dan pengikutnya berpindah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah, peristiwa itu menjadi dasar acuan permulaan perhitungan kalender Islam. Di Madinah, Muhammad dapat menyatukan orang-orang anshar (kaum muslimin dari Madinah) dan muhajirin (kaum muslimin dari Mekkah), sehingga umat Islam semakin menguat. Dalam setiap peperangan yang dilakukan melawan orang-orang kafir, umat Islam selalu mendapatkan kemenangan. Dalam fase awal ini, tak terhindarkan terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.
Keunggulan diplomasi nabi Muhammad pada saat perjanjian Hudaibiyah, menyebabkan umat Islam memasuki fase yang sangat menentukan. Banyak penduduk Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian berbalik memeluk Islam, sehingga ketika penaklukan kota Mekkah oleh umat Islam tidak terjadi pertumpahan darah. Ketika Muhammad wafat, hampir seluruh Jazirah Arab telah memeluk agama Islam.

2). Khalifah Rasyidin

Khalifah Rasyidin atau Khulafaur Rasyidin memilki arti pemimpin yang diberi petunjuk, diawali dengan kepemimpinan Abu Bakar, dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Pada masa ini umat Islam mencapai kestabilan politik dan ekonomi. Abu Bakar memperkuat dasar-dasar kenegaraan umat Islam dan mengatasi pemberontakan beberapa suku-suku Arab yang terjadi setelah meninggalnya Muhammad. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib berhasil memimpin balatentara dan kaum Muslimin pada umumnya untuk mendakwahkan Islam, terutama ke Syam, Mesir, dan Irak. Dengan takluknya negeri-negeri tersebut, banyak harta rampasan perang dan wilayah kekuasaan yang dapat diraih oleh umat Islam.

3). Masa kekhalifahan selanjutnya

Setelah periode Khalifah Rasyidin, kepemimpinan umat Islam berganti dari tangan ke tangan dengan pemimpinnya yang juga disebut "khalifah", atau kadang-kadang disebut "amirul mukminin", "sultan", dan sebagainya. Pada periode ini khalifah tidak lagi ditentukan berdasarkan orang yang terbaik di kalangan umat Islam, melainkan secara turun-temurun dalam satu dinasti (bahasa Arab: bani) sehingga banyak yang menyamakannya dengan kerajaan; misalnya kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah yang kesemuanya diwariskan berdasarkan keturunan.
Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam telah menjadikannya salah satu kekuatan politik yang terkuat dan terbesar di dunia pada saat itu. Timbulnya tempat-tempat pembelajaran ilmu-ilmu agama, filsafat, sains, dan tata bahasa Arab di berbagai wilayah dunia Islam telah mewujudkan satu kontinuitas kebudayaan Islam yang agung. Banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan bermunculan dari berbagai negeri-negeri Islam, terutamanya pada zaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 masehi.
Luasnya wilayah penyebaran agama Islam dan terpecahnya kekuasaan kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya berbagai otoritas-otoritas kekuasaan terpisah yang berbentuk "kesultanan"; misalnya Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, yang telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki kekuasaan yang kuat dan terkenal di dunia. Meskipun memiliki kekuasaan terpisah, kesultanan-kesultanan tersebut secara nominal masih menghormati dan menganggap diri mereka bagian dari kekhalifahan Islam.
Pada kurun ke-18 dan ke-19 masehi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Kesultanan Utsmaniyyah (Kerajaan Ottoman) yang secara nominal dianggap sebagai kekhalifahan Islam terakhir, akhirnya tumbang selepas Perang Dunia I. Kerajaan ottoman pada saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap kurang tegas oleh kaum pemuda Turki yang di pimpin oleh mustafa kemal pasha atau kemal attaturk, sistem kerajaan dirombak dan diganti menjadi republik.

Demografi

Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,4 miliar umat Muslim yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, India dan Bangladesh. Populasi Muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi Muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat Cina, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.
Pertumbuhan Muslim sendiri diyakini mencapai 2,9% per tahun, sementara pertumbuhan penduduk dunia hanya mencapai 2,3%. Besaran ini menjadikan Islam sebagai agama dengan pertumbuhan pemeluk yang tergolong cepat di dunia. [1]. Beberapa pendapat menghubungkan pertumbuhan ini dengan tingginya angka kelahiran di banyak negara Islam (enam dari sepuluh negara di dunia dengan angka kelahiran tertinggi di dunia adalah negara dengan mayoritas Muslim [2]. Namun belum lama ini, sebuah studi demografi telah menyatakan bahwa angka kelahiran negara Muslim menurun hingga ke tingkat negara Barat. [3]

6. Tempat ibadah

Rumah ibadat umat Muslim disebut masjid atau mesjid. Ibadah yang biasa dilakukan di Masjid antara lain salat berjama'ah, ceramah agama, perayaan hari besar, diskusi agama, belajar mengaji (membaca Al-Qur'an) dan lain sebagainya.

Kamis, 16 Februari 2012

Baaluah...........

PASAMBAHAN MINUM jo MAKAN Sipangka : Oo sutan….!!!!! Alek I : Iyoo ambo. Sipangka : Sungguah pun sutan surang nan taimbau dek ambo kini, sarapek papeknyo niniak jo mamak, guru jo rajo, sanak jo sudaro, nan di tani lantai, nan lingka dindiang, nan di sungkuik atok. Rasian pamenan lalok,kacimpuang pamenan mandi. Artinyo bana; indak tabilang indak ta atok, A nan kapambilang nan ka ma atok?? Salam jo sambah di tibokan bakeh sutan. Alek I : Manitah lah….!!! Sipangka : kini alah sambah di tibokan bakeh sutan? iyolah awa dibari bapamula an, akhie nan di bari bakasudahan, ba a dek awa nyo? Iyo lah dek iyo-iyo baradi, dek tido-tido barako, lah dicari hari nan baik kutiko nan elok, dek hari sahari tadi, dek malam samalam nangko, antah ko hari nan baiak, antah ko kutiko nan elok, sadang wakatu bungo kambang, sauoh tatagak angin tibo, anjuong balayia di musimnyo, sadang ko elok palayaran, ba a dek kamujuran kami silang nan bapangka, karajo nan bapokok, kok pandang jauah di laying kan, pandang dakek di tukiak kan, artinyo bana; jauah dilayag kan surek, dakek di kapuakan siriah, ruponyo jikok jauh lah cinto-mancintojikok dekek suruah lah dating, A pikolah untuak dek kami silang nan bapangka karajo nan bapokok? Iyolah manjago taratik jo majlih, karenah lelo jo sopan, artinyo bana; imbau di laman lah basahuti, jikok naiak alah di singkok kan pintu, jikok duduak alah di kambang kan lapiak, ruponyo kok dicaliak lah baiak rupo, kok di makan lah baiak raso, dek karano duduak alah bareda, tagak alah bapusu, A pulo lah untuak dek kami silang nan bapangka karajo nan bapokok, iyolah nak manjago ereng jo gendeang, cakah dengan kaik, artinyo bana; cewang di langik tando kapaneh, gabak di hulu tando ka hujan, artinyo bana; tibo katiko paneh nak di sadiokan palindungan, tibo katiko hujan nak di sadiokan payuang, artinyo bana; tibo wakotu minun di sadiokan aia saroto jo paminumnyo, tibo wakotu makan di sadiokan nasi saroto jo pamakannyo, ba a nan sawajah iko kini, lah tibo di wakotu awih lah di sadiokan aia saroto jo paminunnyo, lah disuruah sutan sirajo janang nan capek kaki, nan ringan tangan untuak maetak maetengkan hidangan kahadapan kito nan basamo, pihak kapado sutan sirajo janang, urang nan arih bijaksano, tahu dikilek dengan kalam, tahu di bayang kato sampai, alun di suruah inyo lah pai, alun di imbau inyo lah dating, pandai ma etak janang dahulu, pandai manyusun janang kudian, dari pangka lapeh ka ujuang, dari tangah lapeh ka tapi, indak balago cawan jo pinggan, sanang lah hati ma mandangnyo, ruponyo nan kajadi kandak dek kami silang nan bapangka karajo na bapokok, aia talatak mintak diminum, hidangan katangah mintak di makan. Sakian lah sambah ka bakeh sutan, senteng mintak di bilai kurang mintak di tukuak. Jawaban alek I : alah sampai dek sutan….. Sipangkalan : Bilang alah. Alek I : Ruponyo buah kabanaran sutan tu, lah di dalam barih jo balabeh,alah dilingkuang adat jo pusako, adat lamo pusako usang, jalan rayo titian batu, Itulah kato nan sabananyo,sabuah indak nan salah, sasabuik ka sadonyo, Ba a dek ambo tu kini, sahandaknyo kaki tarejang sambuik tibo, artinyo bana Kato lakeh bajawek, gayuang lakeh basambuik, ba adek ambo tu kini, Sabalum kato ka di jawek, sabalum gayuang ka di sambuik, dek karano duduak baganding jo nan pandai, tagak baganding jo nan tuo, jikok ambo ambo ambiak rundiang jo baiyo, jikok ambo renjeng kato jo mufakat, sifat mananti sutan sakutiko, lai ko dalam barih jo balabeh, lai ko dilingkuang adat jo pusako, senteang mintak di bilai kurang mintak di tukuak. salam kumbali bakeh sutan.. Sipangka : Alah sampai dek Sutan…. Alek I : Bilang alah Sipangka : Ruponyo kabanaran sutan tu kini, di tiliak lah maklum kato, di paham lah maklum sambah, kok alua lah tibo di nan patuik, kato lah tibo di nan bana, dek duduak lai bagandiang jo nan pandai,tagak bagandiang jo nan tuo, artinyo bana, nak di ambiak rundiang jo baiyo, direnjeang kato jo mufakat, sifat mananti sutan sakutiko kan baitu bana kato sutan???? Pihak nyo sambah dek ambo tu kini, indak pulo di uji samo merah, indak pulo ditimbang samo baarek, ba a dek ambotu kini, nan marusuah nan manggamang kato surang kok indak di bulati, kato basamo kok indak di paiyokan, kok nan tuo indak di pamulie, kok nan ketek indak di kasihi, samo gadang indak di baok jo baiyo, ruponyo dek sutan urang arih bijaksano urang nan gadang cando kio, tau di kilek dengan kalam, tau di bayang kato sampai, artinyo bana. Suri nan tagantuang lai kabatanun, jalan tarantang lai ka batampuah, adat babuek lai ka bapakai, indak do sutan, pucuak dicinto bulan pun tibo,sumua dikali aie datang,cincin di cinto galang buliah, ba a dek ambo tu kini, sahingo mintak lai ka buliah mintak lai kabalaku, lambek jo lamo ambo nati sutan, tapi jan lamo bana. Alek I : alah sampai sutan??? Sipangka : bilang alah Alek I : Indak do sutan, sahinggo lah dapek izin nan sabuah, kato nan sapatah, pandai baturuk, kato badanga, kato dapek bapakai sutan. Sipangka : insya allah mandanga bunyi. MAMPALEGAKAN KATO Dari alek I ka si alek II Alek I : ooo sutan!!!!!!!!!!!!!!!! Alek II : Iyo Ambo. Alek I : Sungguah pun sutan surang nan ta imbau dek ambo tu kini, iyolah sarapeknyo niniak jo mamak, guru jo rajo, sanak jo sudaro, nan di tani lantai, nan di lingkuang dindiang, nan di sungkuik atok, rasian pamenan lalok, kacimpuang pamenan mandi, indak ta bilang indak ta atok, hanyo nan kamambilang nan ka ma atok, ka banaran di tibokan bakeh sutan. Alek II : Manitahlah atau palaluan lah mak. Alek I : Aa lah nan ka jadi buah kabanaran dek ambo tu kini, iyo basuo juo bak pitua urang tuo, di pancuang talang ka turak di ambiak ka junjuang siriah, malang ndak dapek ambo tulak, mujua ndak dapek di raiah, ba a dek kamujurannyo, lah talatak hidangan kahadapan kito nan basamo, dek dek kamalangannyo lah tibo panitahan dek silang nan bapangka, karajo nan bapokok, tatukiek ka bakeh ambo, talayangnyo ka bakeh kito nan basamo, ba a dek ambo tu kini, takuik di badan nan kabarutang, cameh di badan nan ka mati, kok kato alun ambo jawab, kok gayuang alun ambo sambuik, dek dek karano sutan lai duduak disiko, supayo nak ka hilia sarangkuah dayuang, ka mudiak satulak galah, ba a dek ambo tu kini, babulekkan aie ka pambuluah, di bulekkan kato ka mufakat, di bulekkan jantuang ka kalupak, Iyo sutan bana nak mangumbalikan dima tabiknyo nan bak padi, dima tumbuahnyo nan bak bijo, sakian sambah ka bakeh sutan, senteang mintak di bilai kurang mintak di tukuak. Jawab alek II Alek II : Alah sampai dek sutan. Alek I : Bilang Alah. Alek II : Ruponyo buah ka banaran sutan tu alah di dalam barih jo balabeh, dilingkuang adat jo pusako, adat lamo pusako usang, jalan rayo titian batu Itulah kato sabananyo, sabuah indak nan ba salah, tasabuik iyo kasadonyo, ba a dek ambo tu kini, sahandaknyo sahimbau sampai, salangkah tibo, artinyo bana, kato lakeh bajawek, gayuang lakeh basambuik, pidato lai ambo imak, ba a dek ambo tu kini, sabalum kato ka ambo jawek ,sabalum gayuang ka ambo sambuik, karano ka ateh lai dapek di paningadahkan, kabawah lai dapek di takuakan, ka suok lai dapek ma engoh, ka kida lai dapek ma ereng, artinyo bana, karano lai duduak niniak jo mamak, guru jo rajo, sanak jo sudaro,nak ambo ambiak rundiang jo baiyo, nak ambo renjeang kato jo mufakat, supayo bajalan nak nyo baranti, bakato nak sudah, sifat mananti sutan sakutiko, lai kodi dalam barih jo balabeh, dilingkuang adat jo pusako. Jawab alek I Alek I : alah sampai dek sutan???? Alek II : Bilang alah Alek I : Ruponyo kabanaran sutan itu kini, di danga lah baik bunyi, di pandang lah baik rupo, kok alua lah tibo di nan patuik, kok kato lah tibo di nan bana, ba a dek sutan tu kini, dek lai duduak niniak jo mamak, guru jo rajo, sanak sudaro, nak di ambiak rundiang jo baiyo, nak di renjeang kato jo mufakat, sifat mananti ambo sakutiko kan baitu bana kato sutan? Indak do sutan, dek ambo tu kini, indak pulo di uji samo merah, indak pulo di timbang samo barek, ba a dek ambo tu kini, nan marusuah manggamang nan tuo kok indak di pamulie, kok nan ketek indak di kasihi, nan samo gadang kok indak di lawan ba iyo, ruponyo dek sutan urang nan arih bijak sano, urang nan cadiak cando kio, tau di kilek dengan kalam, tau di bayang kato sampai, artinyo bana, suri tagantuang lai ka batanun, jalan tarantang lai ka batampuah, Indak do sutan, sahinggo nan ka dijuluak lai ka rareh, nan dijapuik lai ka ta baok,asa kandak lai ka balaku, lambek jo lamo ambo mananti sutan. Alek II : Indak do sutan, sahinggo lah dapek izin nan sabuah, kato nan sapatah, pandai baturuik kato badanga, kato dapek bapakai sutan. Alek I : insya allah mandanga bunyi. Mintak Barih jo Balabeh Alek II : Ma Angku Datuak Datuak : Iyo ambo. Alek II : Di susun jari nan sapuluah, di takuakan kapalo na satu, di unjuakan lutuik nan duo bakehnyo ambo mintak ampun, sungguah pun datuak surang nan taimbau dek ambo tu kini, iyolah sarapeknyo niniak jo mamak, guru jo rajo, sanak jo sudaro, nan di tani lantai, di lingka dindiang, di sungkuik atok, indak ta bilang indak ta atok, angku datuaklah ambo jalang jo pasambahan. Datuak : manitahlah. Alek II : Kini alah sambah di tibokan ka bakeh datuak, iyolah awal babari pamulaan akhia nan dibari bakasudahan, kok di awalnya, di pancuang talang katurak, di ambiak ka junjuang sirieh, malang tak dapek ditulak maujua tak dapek di raiah, dek kamujurannyo, lah talatak hidangan kahadapan kito nan basamo, dek kamlangan nyo lah tibo panithan dari silang nan bapangka, karajo nan ba pokok, tatukiak ka bakeh sutan I (………….) talayang ka bakeh kito nan basamo, lah tibo pulo ka bakeh ambo, ba a dek ambo tu kini kato alun ambo jawek, gayuang alun ambo sambuaik, pidato alah ambo imak, dek karano lai duduak datuak disiko, iyo nak babari barih jo balabeh Ukua jo jangko, supayo bajalan nak nyo baranti, bakato nak nyo sudah, sakian sambah ka bakeh angku datuak, senteang mintak di bilai, kurang kurang mintak di tukuak. Datuak : oo sutan!!!!!!! Alek II : iyo ambo Datuak : Sungguah punsutan surang nan taimbau dek ambo tu kini, iyolah sarapek papeknyo niniak jo mamak, guru jo rajo sanak jo sudaro, nan di tani lantai, di lingka dindiang di sungkuik atok, artinyo bana indak tabillang indak ta atok, hanyo nan ka mambilang nan ka ma taok, ujuang kabaran sutan di panaiak, A lah nan jadi buah kabanaran dek sutan tu tadi, iyolah dek awa nan bapamulaan, dek akhia nan bakasudahan, ba a dek awalnyo, iyolah dek alah manitah silang nan bapangka, karajo nan ba pokok, nan ta tukiak ka bakeh sutan I (……………..) talayang ka bakeh kito nan basamo, mah lah tibo pulo ka bakeh sutan, ba a dek sutan tu kini, gayuang balun basambuik, kato balum bajawek, dek lai duduak pulo ambo di siko, nak babari barih jo ba labeh, ukua jo jangko, supayo bajalan nak nyo baranti bakato naknyo sudah kan baitu bana kato sutan? Ba a dek ambo tu kini kasuok lah ambo engohkan, ka kida lah ambo erengkan, ba a tunyo kini, babulekkan aia ka pambuluah, babulekkan jantuang ka kalupak, pulangkan dek sutan dima tabiknyo bak padi, dima tumbuah nan bak bijo, ateh namo pintak dek silang nan bapangka karajo nan bapokok, pintak samo-samo kito bari, kandak samo-samo kito palakuan, dalam itu kito nan basamo, singkek sajo sutan. Alek II : Alah sampai dek Datuak???? Datuak : Bilang alah Alek II : Sapanjang buah kabanaran angku datuak tu kini, di danga alah baik bunyi, di pandang lah baik rupo, alah di lingkuang adat jo pusako,adat lamo pusako usang, jalan rayo titian batu, itulah kato nan sabananyo, ba a dek ambo kini, indak pulo ka di ulang kili di titikam jajak, di ulang kili kok nyo lapeh, kok di tikam jajak koknyo mati, ba a nyo tu kini senteang lah rasoba babilai, kurang lah raso batukuak, buruak lah ba paelok, elok lah ba hiasi, ba a nyo tu kini, nak ambo pulangkan dima tabiknyo nan bak padi tumbuah nan bak bijo, sungguah mantang pun baitu, duduak bapaio tagak babimbiang, singkek sajo angku datuak. Datuak : insya allah mandanga bunyi. Alek II : ma sutan? Alek I : iyo ambo…. Alek II : sungguah pun sutan surang nan ta imbau dek ambo tu kini, iyolah Sarapeknyo niniak jo mamak, guru jo rajo sanak jo sudaro, nan di tani Lantai, di lingka dindiang, di sungkuik atok, artinyo bana, indak tabilang Indak ta atok, hanyo nan ka mambilang nan ka ma atok, ujuang kabanaran Sutan di panaiak. Alah nan jadi buah kabaran dek sutan tu tadi, iyolah di pancuang talang Katurak, di ambiak ka junjuang siriah, malang tak dapek di tulak, mujua tak Dapek diraiah, ba a dek ka mujurannyo, lah talatak hidangan ka hadapan Kito nan basamo, dek kamalangannyo, lah tibo panitahan dari silang nan Bapangka karajo nan bapokok. Tatukiaknyo ka bakeh sutan talayangnyo ka Kabakeh kito nan basamo, ba a dek sutan tu kini, cameh di badan nan ka Ba hutang, takuik di badan nan ka mati, kok gayuang alun ba sambuik Gayuang alun ba sambuik, katoalun bajawek, karano lai duduak pulo ambo Di siko, supayo kailia nak sarangkuah dayuang, ka mudiak satulak galah, Nak ambo bana mangumbalikan dima tabiknyo nan bak padi,tumbuah nan Bak bijo, kan baitu bana kato sutan. Indak do sutan, ba a dek ambotu kini, kasuok alah ambo engohkan ka kida Alah ambo erengkan, ba a nyo tu kini, babulekkan aia ka pambuluah, Babulekkan jantuang ka kalupak, tantangan gayuang nan kamanyambuik Kato nan ka bajawab, iyo sutan bana nan mangumbalikan dima tabik nan Bak padi, dima tumbuah nan bak bijo, ateh namo dek pintak dek silang nan bapangka,karajo nan bapokok, pintak samo-samo kito bari,kandak samo-samo kito palakuan, didalam itu kito nan basam, singkek jo sutan. Alek I : Alah sampai dek sutan? Alek II : Bilang alah. Alek I : Sapanjang buah kabanaran sutan itu kini ditiliak alah maklum kato, di paham maklum sambah, kok alua alah tibo di nan patuik, kato alah tibo di nan bana, ba a dek ambo tu kini, indak pulo di ulang kili ditikam jajak, di ulang kili banang kok lapeh, ditkam jajak kok sipih, ba a tunyo kini, senteang lah raso babilai, kurang lah raso batukuak, buruak lah ba pa elok, elok lah bahiasi, ba a tunyo kini, sahinggo lah dapek kato sabuah, ambo kumbalikan dima tabiknyo nan bak padi, tumbuahnyo nan bak bijo, duduak ba paluak tagak babimbiang sutan. Alek II : insya allah mandanga bunyi. Alek I : ma sutan? Sipangka : iyo ambo. Alek I : sungguah sutan surang nan taimbau dek ambo tu kini, iyolah sarapeknyo niniak jo mamak guru jo rajo,sanak jo sudaro, nan ditani lantai, nan di lingka dindiang, nan di sungkuik atok, artinyo bana rasian pamenan lalok, kacimpuang pamenan mandi, indak tabilang indak ta atok, hanyo nan ka mambilang nan ka ma atok, kabanaran sutan di panaik. Sipangka : Manitahlah Alek I : A lah nan jadi buah kabanaran dek tu tadi, iyolah awal di bari ba pamuloan akhie di bari bakasudahan, ba a dek awalnyo iyolah dek iyo-iyo baradi dek tido- tido barako, lah dicari hari nan baiak kutiko nan elok, dek hari sahari tadi, dek malam samalam nangko, antah ko hari nan baik antah ko kutitiko nan elok,sadang wakatu bungo kambang, sauoh tatagak angin tibo, ajuong balaia di musimnyo, sadangko elok palayaran, ba a dek kamujuran dari silang nan bapangka, karajo nan bapokok, kok pandang jauah lah di layangkan pandang dakek lah di tukiakkan, artinyo bana tu kini, jauah lah di layangkan surek, dakek lah di kapuakan siriah, ruponyo jikok jauh alah cinto mancitoi, jikok dakek saruan alah datang. A pulo lah untuang dek kami dari silang nan bapangka karajo nan bapokok, iyolah manjago taratik jo majlih, karenah lelo jo tampan, artinyo bana imbau di laman alah basahuti, jikok naiak alah disingkok kan pintu, jikok dudak alah di kambangkan lapiak, ruponyo kok di caliak alah baik rupo, di makan alah baik raso, karano duduak alah bareda, duduak alah bapusu, tantu nak bajago pulo ereang jo gendeang, cakah dengan kaik, artinyo bana cewang di langik cando ka paneh, gabak di hulu cando ka hujan, artinyo bana, tibo di jangko wakatu ka minum lah di di sadiokan aia sarato jo paminumnyo, tibo di jangko wakatu ka makan lah di sadiokan nasi sarato jo pamakannyo, nan lah disuruah sutan sirajo janang nan capek kaki baringan tangan, untuak ma etak ma eteangkan hidangan ka hadapan kito nan basamo, pihak kapado sutan sirajo janang urang nan arih bijaksano, tau di kilek dengan kalam, tau di bayang kato sampai, alun disuruah inyo lah pai, alun di imbau inyo lah datang, pandai maotok janang dahulu, pandai manyusun janang kudian, dari pangka lapeh ka ujuang, dari tangah lapeh katapi, indak balago cawan dengan pinggan, sananglah hati mandanganyo, ruponyo nan jadi kandak dek silang nan bapangka karajo nan bapokok, aia taisi mintak di minum hidangan ka tangah mintak di santap, kan baitu bana kato sutan? Indak do sutan sapanjang buni kabanaran sutan tu tadi, dek ambo tu kini kato surang lah ambo pa bulek I, kato basamo alah ambo pa iyokan, artinyo bana, tingginyo bukik alah ambo daki, dalamnyo lurah lah ambo turuni, ka ilia alah ambo rantang tali, ka mudiak alah ambo serakkan jalo, dek mancari bulek nan sagolang picak nan salayang, ba a tu nyo kini kok bulek lah buliah di golongkan, picak alah buliah di layangkan, ba a tu nyo kini nan ka jawabnyo, dek baliau nan basamo, sahinggo lah sakah dari dahan, lah gugua dari pado tampuak, kasiah batarimo titah bajunjuang, salam kumbali pado sutan. Sipangka : alah sampai dek sutan? Alek I : bilang alah. Sipangka : sapanjang buah kabanaran sutan tu kini di danga lah baiak buni, di pandang lah baiak rupo, ba a dek ambo tu kini indak di baliak nan bak mamanggang, indak di ulang nan bak manyapuah, itu juo nan ka disabuik, ba a tunyo kini sentenglah lah raso babilai, kurang lah raso batukuak, buruak lah ba pa elok, elok lah ba hiasi, ba a tu nyo kini, ba uruikkan ka muko, ba urehkan ka hati, ba mulai dengan bismillah sutan.

Senin, 13 Februari 2012

Tommorow Valentine Day...But How About We? Valentine banyak dirayakan oleh orang-orang pada saat sekarang ini bahkan pemuda/i muslim, valentine menurut sebagian orang bahkan bukanlah perayaan bagi kita Umat Islam.......So kita semua sudah tahu makna valentine yang sebenarnya dan kita juga sudah mengetahui sejarahnya...jadi apakah kita sebagai Umat Islam akan tetap merayakannya, sebagaimana kita memeriahkan Tahun Baru Masehi walaupun pada intinya berbeda...semuanya tergantung pada diri kita masing-masing.....yang penting akidah dan keimanan kita jangan goyah.... Wassalam

Sabtu, 11 Februari 2012

Valentine Day

VALENTINE DAY (HARI BERKASIH SAYANG) Menurut pandangan Islam Benarkah ia hanya kasih sayang belaka ? “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah Al-An’am : 116) Hari 'kasih sayang' yang dirayakan oleh orang-orang Barat pada tahun-tahun terakhir disebut 'Valentine Day' amat popular dan merebak di pelusuk Indonesia bahkan di Malaysia juga. Lebih-lebih lagi apabila menjelangnya bulan Februari di mana banyak kita temui jargon-jargon (simbol-simbol atau iklan-iklan) tidak Islami hanya wujud demi untuk mengekspos (mempromosi) Valentine. Berbagai tempat hiburan bermula dari diskotik(disko/kelab malam), hotel-hotel, organisasi-organisasi mahupun kelompok-kelompok kecil; ramai yang berlumba-lumba menawarkan acara untuk merayakan Valentine. Dengan dukungan(pengaruh) media massa seperti surat kabar, radio mahupun televisyen; sebagian besar orang Islam juga turut dicekoki(dihidangkan) dengan iklan-iklan Valentine Day. SEJARAH VALENTINE: Sungguh merupakan hal yang ironis(menyedihkan/tidak sepatutnya terjadi) apabila telinga kita mendengar bahkan kita sendiri 'terjun' dalam perayaan Valentine tersebut tanpa mengetahui sejarah Valentine itu sendiri. Valentine sebenarnya adalah seorang martyr (dalam Islam disebut 'Syuhada') yang kerana kesalahan dan bersifat 'dermawan' maka dia diberi gelaran Saint atau Santo. Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya (pertelingkahan) dengan penguasa Romawi pada waktu itu iaitu Raja Claudius II (268 - 270 M). Untuk mengagungkan dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cubaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'. Tetapi sejak abad 16 M, 'upacara keagamaan' tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi 'perayaan bukan keagamaan'. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani(Kristian), pesta 'supercalis' kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai 'hari kasih sayang' juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu 'kasih sayang' itu mulai bersemi 'bagai burung jantan dan betina' pada tanggal 14 Februari. Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang bererti 'galant atau cinta'. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dengan berkembangnya zaman, seorang 'martyr' bernama St. Valentino mungkin akan terus bergeser jauh pengertiannya(jauh dari erti yang sebenarnya). Manusia pada zaman sekarang tidak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari Valentine. Di mana pada zaman sekarang ini orang mengenal Valentine lewat (melalui) greeting card, pesta persaudaraan, tukar kado(bertukar-tukar memberi hadiah) dan sebagainya tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa moment(hal/saat/waktu) ini hanyalah tidak lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merosak 'akidah' muslim dan muslimah sekaligus memperkenalkan gaya hidup barat dengan kedok percintaan(bertopengkan percintaan), perjodohan dan kasih sayang. PANDANGAN ISLAM Sebagai seorang muslim tanyakanlah pada diri kita sendiri, apakah kita akan mencontohi begitu saja sesuatu yang jelas bukan bersumber dari Islam ? Mari kita renungkan firman Allah s.w.t.: “ Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (Surah Al-Isra : 36) Dalam Islam kata “tahu” berarti mampu mengindera(mengetahui) dengan seluruh panca indera yang dikuasai oleh hati. Pengetahuan yang sampai pada taraf mengangkat isi dan hakikat sebenarnya. Bukan hanya sekedar dapat melihat atau mendengar. Bukan pula sekadar tahu sejarah, tujuannya, apa, siapa, kapan(bila), bagaimana, dan di mana, akan tetapi lebih dari itu. Oleh kerana itu Islam amat melarang kepercayaan yang membonceng(mendorong/mengikut) kepada suatu kepercayaan lain atau dalam Islam disebut Taqlid. Hadis Rasulullah s.a.w:“ Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”. Firman Allah s.w.t. dalam Surah AL Imran (keluarga Imran) ayat 85 :“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. HAL-HAL YANG HARUS DIBERI PERHATIAN:- Dalam masalah Valentine itu perlu difahami secara mendalam terutama dari kaca mata agama kerana kehidupan kita tidak dapat lari atau lepas dari agama (Islam) sebagai pandangan hidup. Berikut ini beberapa hal yang harus difahami di dalam masalah 'Valentine Day'. 1. PRINSIP / DASAR Valentine Day adalah suatu perayaan yang berdasarkan kepada pesta jamuan 'supercalis' bangsa Romawi kuno di mana setelah mereka masuk Agama Nasrani (kristian), maka berubah menjadi 'acara keagamaan' yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine. 2. SUMBER ASASI Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan fikiran manusia yang diteruskan oleh pihak gereja. Oleh kerana itu lah , berpegang kepada akal rasional manusia semata-mata, tetapi jika tidak berdasarkan kepada Islam(Allah), maka ia akan tertolak. Firman Allah swt dalam Surah Al Baqarah ayat 120 :“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. 3. TUJUAN Tujuan mencipta dan mengungkapkan rasa kasih sayang di persada bumi adalah baik. Tetapi bukan seminit untuk sehari dan sehari untuk setahun. Dan bukan pula bererti kita harus berkiblat kepada Valentine seolah-olah meninggikan ajaran lain di atas Islam. Islam diutuskan kepada umatnya dengan memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dan menjalinkan persaudaraan yang abadi di bawah naungan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan Rasulullah s.a.w. bersabda :“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri”. 4. OPERASIONAL Pada umumnya acara Valentine Day diadakan dalam bentuk pesta pora dan huru-hara. Perhatikanlah firman Allah s.w.t.:“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Surah Al Isra : 27) Surah Al-Anfal ayat 63 yang berbunyi : “…walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Sudah jelas ! Apapun alasannya, kita tidak dapat menerima kebudayaan import dari luar yang nyata-nyata bertentangan dengan keyakinan (akidah) kita. Janganlah kita mengotori akidah kita dengan dalih toleransi dan setia kawan. Kerana kalau dikata toleransi, Islamlah yang paling toleransi di dunia. Sudah berapa jauhkah kita mengayunkan langkah mengelu-elukan(memuja-muja) Valentine Day ? Sudah semestinya kita menyedari sejak dini(saat ini), agar jangan sampai terperosok lebih jauh lagi. Tidak perlu kita irihati dan cemburu dengan upacara dan bentuk kasih sayang agama lain. Bukankah Allah itu Ar Rahman dan Ar Rohim. Bukan hanya sehari untuk setahun. Dan bukan pula dibungkus dengan hawa nafsu. Tetapi yang jelas kasih sayang di dalam Islam lebih luas dari semua itu. Bahkan Islam itu merupakan 'alternatif' terakhir setelah manusia gagal dengan sistem-sistem lain. Lihatlah kebangkitan Islam!!! Lihatlah kerosakan-kerosakan yang ditampilkan oleh peradaban Barat baik dalam media massa, televisyen dan sebagainya. Karena sebenarnya Barat hanya mengenali perkara atau urusan yang bersifat materi. Hati mereka kosong dan mereka bagaikan 'robot' yang bernyawa. MARI ISTIQOMAH (BERPEGANG TEGUH) Perhatikanlah Firman Allah : “…dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim”. Semoga Allah memberikan kepada kita hidayahNya dan ketetapan hati untuk dapat istiqomah dengan Islam sehingga hati kita menerima kebenaran serta menjalankan ajarannya. Tujuan dari semua itu adalah agar diri kita selalu taat sehingga dengan izin Allah s.w.t. kita dapat berjumpa dengan para Nabi baik Nabi Adam sampai Nabi Muhammad s.a.w. Firman Allah s.w.t.: “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka dia akan bersama orang-orang yang diberi nikmat dari golongan Nabi-Nabi, para shiddiq (benar imannya), syuhada, sholihin (orang-orang sholih), mereka itulah sebaik-baik teman”. Berkata Peguam Zulkifli Nordin (peguam di Malaysia) di dalam kaset 'MURTAD' yang mafhumnya :- "VALENTINE" adalah nama seorang paderi. Namanya Pedro St. Valentino. 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Sepanyol. Paderi ini umumkan atau isytiharkan hari tersebut sebagai hari 'kasih sayang' kerana pada nya Islam adalah ZALIM!!! Tumbangnya Kerajaan Islam Sepanyol dirayakan sebagai Hari Valentine. Semoga Anda Semua Ambil Pengajaran!!! Jadi.. mengapa kita ingin menyambut Hari Valentine ini kerana hari itu adalah hari jatuhnya kerajaan Islam kita di Sepanyol..

Pengikut